Tag Archives: malick

Puisi Eksistensi, The Tree of Life

Standard

The Tree of Life

ditulis oleh Aldamayo Panjaitan

 “Where were You? You let a boy die. You let anything happen. Why should I be good ? When You aren’t.” 

Banyak sekali film yang berbicara tentang hakekat Tuhan, kehidupan manusia (dan juga kematian tentunya), baik diadaptasi secara melodramatis, kriminal dan juga komedi. Tapi hanya sedikit film yang membahas perihal kehidupan secara puitis tapi tidak ketinggalan pula komprehensif, seperti film The Tree of Life karya Terrence Malick ini.

Terrence Malick adalah seorang sutradara legendaris yang hanya membuat film jika ia benar-benar siap membuatnya secara mental dan psikologis, hal ini terbukti dari betapa sedikitnya jumlah film yang telah Malick buat selama karirnya, yaitu sebanyak 6 buah saja yang ia sutradarai. Terlebih lagi, apabila Malick memegang kendali dari kursi sutradara, ia tidak pernah main-main, ia memegang penuh seluruh proses syuting, dan jangan dilupakan Malick adalah seorang perfeksionis sejati seperti Kubrick.  Mungkin satu-satunya perbedaan utama antara Malick dan Kubrick adalah bahwa Malick merupakan 100% emosi dan Kubrick adalah manifestasi dari logika, meskipun hal ini tidaklah mutlak.

Emosi, adalah suatu hal yang mendasari suatu puisi. Ya, The Tree of Life dibuat sebagai sebuah visual-poem, bukan sebagai film yang mainstream. Film ini berstruktur non-linear, dan percaya atau tidak, nyaris tanpa plot sama sekali. Plot (jika bisa dibilang plot) satu-satunya di film ini adalah bahwa sebuah keluarga di Amerika Serikat tahun 50-an telah kehilangan seorang putra, dan film ini berfokus pada kesedihan keluarga tersebut, tapi seperti disebutkan sebelumnya, dibuat sangat tidak prosaik, minim dialog, dan juga penuh cut-cut non-linear yang terfragmentasi. Ya, anda sedang membaca pembukaan sebuah puisi yang rapuh. Lalu penonton diarahkan ke masa kini dimana salah satu saudara kandung (Sean Penn) anak yang meninggal tadi nampak bekerja di sebuah lingkungan yang ultra-steril, dan nampak sedang berada di dalam kedukaan yang mendalam, mungkin hari itu adalah hari peringatan beberapa tahun meninggalnya saudaranya, meskipun tidak dijelaskan di film.

Lalu Malick mendadak berputar haluan, dari pemandangan suburban keluarga kelas menengah Amerika Serikat, Malick membawa kita ke awal terjadinya alam semesta. Big Bang! dari gumpalan gas meledaklah sebuah nova dan membentuk gumpalan-gumpalan gas lain, alam semesta tercipta. Adegan ini murni tanpa dialog, hanya diselingi pertanyaan-pertanyaan yang dibisikkan oleh sang Ibu, “where were You?”, tanya sang Ibu seakan-akan menuduh Tuhan yang berlaku tidak adil dengan merenggut nyawa anaknya. Walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit, tapi penonton bisa mengetahui dengan ditampilkannya proses penciptaan alam semesta, kita sedang diajak untuk berpikir jauh kebelakang, menuju motif awal terjadinya kehidupan, bahwa kehidupan (dan kematian) saling berkaitan bahkan dari supernova yang pertama. Malick menyajikan evolusi kehidupan dengan sangat puitis, indah, dan realistis (dibantu oleh ahli spesial efek kenamaan, Douglas Trumbull, yang juga menangani visual efek 2001: A Space Odyssey).

Setelah menikmati sajian visual penuh warna dan kontemplasi itu kita diajak kembali ke dunia suburbia 50-an dimana penonton dibawa ke hari dimana sang anak itu lahir, betapa bahagianya keluarga itu, dan bahwa seorang Bapak yang rapuh di awal film (saat mengetahui anaknya tewas) ternyata adalah seorang ayah otoriter yang no-nonsens dan mendominasi istri dan anak-anaknya (diperankan dengan sangat baik oleh Brad Pitt). Film berlanjut dengan berbagai ketegangan diantara anak-anak karena tindakan otoriter si Bapak, dan juga kebahagiaan mereka ketika si Bapak pergi keluar negeri untuk urusan bisnis.

The Tree of Life tidak menyajikan dialog-dialog yang biasa ada di dalam film keluarga, film ini lebih merupakan sebuah potret, potret yang sangat besar, akan kehidupan. Anda tidak akan menemukan satupun sekuens yang “normal” di film ini, penonton dibuat menjadi bagian dari keluarga itu, tetapi juga diberi jarak yang cukup jauh, seakan keluarga itu merupakan suatu objek penelitian (hal ini mengingatkan kita ke adegan terakhir 2001: A Space Odyssey). Akhir kata, film ini adalah sebuah karya seni yang menawan, sama sekali bukan film popcorn yang bisa dinikmati jika tidak sedang dalam mood serius. Film ini berusaha memotret sebuah keindahan yang rapuh, yang bernama kehidupan.Film ini juga secara tidak langsung bertanya (bukan mempertanyakan) Ketuhanan itu sendiri, seperti kutipan dari film yang ada di awal tulisan ini. Tontonlah, nikmati segala alur dan gelombang visual yang muncul di layar anda, tapi jangan mengharapkan jawaban yang disuap begitu saja ke mulut anda. Malick hanya pengantar pesan (yang sangat handal), ia juga masih bertanya.

The Tree of Life: 8.8/10

Advertisements