Monthly Archives: October 2011

Psikedelia di Era Informatika, Innerspeaker

Standard

lots of trees, trees, trees, rees, rees, rees, ees, ees, ees, es, es, es, s, s, s....

oleh: Aldamayo Panjaitan

Lirik yang surealis, kadang kekanakan, hentakan ritme yang bisa menyihir alam bawah sadar, melodi yang meliuk tidak wajar, balutan gitar penuh efek, dan tentunya kesan synth warna-warni yang luar biasa kaya. Itu semua adalah ciri-ciri dari musik psikedelik (walaupun tidak terbatas pada itu saja tentunya). Pada awalnya, musik psikedelik tampaknya hanya bisa dinikmati oleh kaum hippies yang (mau tak mau) juga adalah pemadat obat-obatan dan tentunya zat dari segala zat, LSD. Tak bisa dipungkiri bahwa lahirnya musik psikedelik dipicu oleh penggunaan obat-obatan tersebut yang mempunyai efek mind-expanding yang sanggup membuat pemakainya mengalami sensasi alam raya yang lebih kaya. Tapi tak sedikit pula dari mereka yang harus menanggung akibat fatal dari penggunaan tersebut, contohnya adalah Brian Jones yang tewas di kolam renang rumahnya dan juga Syd Barrett yang oleh Pink Floyd dicap secara mental tidak sanggup lagi bermusik secara profesional karena pikirannya sudah terlalu drugged.

Setelah gebrakan-gebrakan musik psikedelik yang dilakukan oleh Jefferson Airplane, The Beatles, The Doors, dan Pink Floyd perkembangan musik psikedelik murni nampaknya mengalami stagnasi atau malah kemunduran. Sampai pada akhirnya di akhir tahun 2000an ini muncul beberapa band psikedelik yang pantas didengar dan dinikmati, contohnya adalah MGMT, Animal Collective dan Tame Impala.

Tame Impala sendiri adalah proyek pribadi dari seorang sick genius bernama Kevin Parker, seorang pemuda penyendiri yang berasal dari Perth, Australia. Yes you read that right, Australia, dari benua yang minim diekspos dunia musiknya inilah lahir satu band (mari sebut saja band supaya lebih mudah) yang mempunyai sound yang benar-benar unik ini. Kevin Parker sejak kecil menggemari rekaman amatir di kamarnya dengan tracker kuno dan dengan sendirinya handal memainkan semua instrumen musik. Hal ini terbawa sampai kepada proses pembuatan album Innerspeaker, album debut Tame Impala. Parker memainkan semuanya di album ini, literally semuanya, dari vokal, gitar, drum, bas, keyboard, vibes, suara latar dan efek. Hanya ada beberapa part yang dibantu oleh personil lain Tame Impala yang adalah sobat baik Parker sendiri, yaitu Dominic Simper dan Jay Watson.

Innerspeaker dimulai dengan alunan hipnotik dari lagu “It Is Not Meant To Be” yang mempunyai lirik yang cukup simpel tentang cinta (but not that simple, trust me), anda akan dikejutkan dengan bagaimana suara Kevin Parker menyerupai suara John Lennon pada periode Beatles yang psikedelik! lagu ini menjadi mood-setter yang pas dengan balutan lapisan suara yang bisa membuat anda berkontemplasi sambil rileks di ruang dengar anda. Dilanjutkan dengan hentakan drum repetitif dan riff fuzz renyah di “Desire Be Desire Go” yang cukup catchy (untuk ukuran album ini). Lagu ketiga dimulai dengan sedikit intro funk-ish lalu dilanjutkan dengan desisan keyboard yang tebal yang menjadi motor penggerak dari lagu “Alter Ego”. Sedangkan lagu keempat langsung menghentak telinga anda dengan Parker yang mengeluh “I know where you went but I don’t know how you get there”, suatu pertanyaan yang bisa jadi simpel, tapi bisa jadi punya suatu interpretasi kompleks lain, lagu ini sangat berbobot dan adalah salah satu track terkuat di album ini. Ritem gitar, betotan bas dan aransemen drum yang didesain begitu kacau tapi terkendali terdengar sangat pas. Lagu berikut adalah suatu lagu yang nampaknya dibuat sebagai salah satu lagu radio-friendly di album ini, yaitu “Why Won’t You Make Up Your Mind” yang tentu saja tetap berkualitas, simak baik-baik sensasi stereo-panning dari kiri ke kanan di lagu ini, really is a joy to hear. “Solitude Is Bliss” mengiris dengan kocokan gitar flang yang terdengar normal, tetapi begitu Parker mulai bernyanyi di bait pertama kita akan sadar ini adalah lagu yang luar biasa dengan struktur yang tidak biasa dan dibumbui pengaruh musik ketimuran menjelang reff. Lagu ini adalah single utama dari album ini, secara musik sangatlah indah dan diproduksi dengan sempurna pula. Setelah “Solitude Is Bliss” (pasti anda akan memencet tombol replay berulang-ulang), kita disuguhi instrumental mabuk “Jeremy’s Storm” yang menjadi bukti dari kejeniusan Tame Impala dalam merangkai nada-nada hipnotik menjadi kesatuan yang indah, tentu dibalut layer-layer sound yang magis. Lalu telinga anda akan dihajar oleh 2 kord yang diulang-ulang sebagai pembuka lagu “Expectation”, lagu cerdas dengan drum yang berat dan lead gitar lincah yang sepertinya sengaja “ditenggelamkan” di dalam lautan suara, perhatikan pula synth di lagu ini, menghiasi tanpa perlu mengambil perhatian ekstra, penempatan yang sangat cerdik. “The Bold Arrow of Time” adalah sebuah lagu psychedelic blues yang punya sound gitar dirty yang khas, terdengar seperti Cream yang hidup kembali! Tensi kembali dinaikkan dengan “Runway, Houses, City, Clouds” dengan hentakan cepat bas drum yang kemudian melebur kedalam melodi tenang yang nanti akan ditimpali lagi oleh hentakan intro, permainan dinamika yang apik oleh Tame Impala. Lagu terakhir adalah “I Really Don’t Mind”, lagu simpel yang cocok untuk sing-along, sangat straightforward tetapi tanpa kehilangan identitas psikedelianya.

Album ini adalah sebuah album psikedelik yang bisa memuaskan dahaga akan musik-musik psikedelik bermutu dari masa-masa yang telah lalu. Tidak ada lagu filler di album ini, semua track sama kuat, yang menjadikan album ini tidak bisa didengar per lagu, harus sebagai satu kesatuan agar sensasi yang dirasa pendengar bisa maksimal. Pada akhirnya, Innerspeaker adalah sebuah karya seni kontemporer yang sangat berkualitas, patut didengar penikmat musik manapun.

Innerspeaker – Tame Impala: 8.5/10

Advertisements

(R)Evolusi

Standard

Oleh : Togar Tandjung

Sebuah perusahaan farmasi, Gen-Sys tengah membuat sebuah mega proyek yang bertujuan untuk meningkatkan kerja otak dan menyembuhkan Alzheimer. Gen-Sys, dipimpin oleh ilmuwan muda bernama Will Rodman (James Franco), mengembangkan terapi gen yang menjadikan dua belas ekor simpanse sebagai target percobaannya. Seekor simpanse yang diberi nama Bright Eyes dibuat memiliki kecerdasan yang menyamai manusia. Namun, percobaan itu dianggap gagal ketika Bright Eyes mengamuk di kantor Gen-Sys. Bright Eyes ditembak mati. Ketika ditembak mati, Bright Eyes sedang mengandung seekor simpanse jantan. Amuk dari Bright Eyes bukanlah akibat dari terapi gen yang diberikan kepadanya, tetapi sifat posesif seorang ibu untuk melindungi anak yang ia kandung.

Syahdan, proyek yang dipimpin Will Rodman tadi dibatalkan dan sisa simpanse lainnya dihabisi. Tapi tidak dengan anak dari Bright Eyes yang dapat diselamatkan dari rahim ibunya yang mati. Rodman, yang iba, membawanya pulang dan merawatnya.

Begitulah semuanya bermula. Sebuah reboot dari serial Planet Of The Apes (1968) berjudul Rise of The Planet of The Apes yang baru-baru ini saya tonton dan menjadi satu dari sedikit fiksi-saintifik yang membuat saya berdecak kagum. Tahun 2001, Tim Burton sudah coba membuat remake versi 1968. Tapi, seingat saya, saya tertidur saat menontonnya dalam format DVD.

Rise of The Planet of The Apes adalah yang paling mendekati “kenyataan” dari semua seri Planet of The Apes yang diangkat dari karya novelis Prancis, Pierre Boulle, berjudul La Planete des Singes. Saya memang belum menonton versi 1968 dan seri-seri selanjutnya sebelum versi remake tahun 2001. Saya juga belum pernah membaca novel Boulle. Tapi, Rupert Wyatt, sang sutradara, tampaknya memang lebih “memanusiakan” serial ini lewat filmnya. Dari awal kita tidak langsung dihadirkan dengan adegan fantasi di luar angkasa seperti versi 2001 yang memang murni diangkat dari versi 1968 dan novel Boulle –meski jembatan ke versi asli dari Boulle tersebut coba dihadirkan Wyatt secara sekilas dalam film ini.

Dari awal kita akan melihat bagaimana hubungan “romantis” dari Rodman dan Caesar –sang anak Bright Eyes tadi diberi nama ini oleh ayah Rodman- dan bagaimana Rodman berjuang untuk menyembuhkan ayahnya dari penyakit Alzheimer hingga ia memutuskan untuk menjadikannya sebagai kelinci percobaan. Rodman berhasil menyembuhkan ayahnya, tapi hanya temporer dan kepikunan ayahnya bertambah parah. Caesar sendiri tumbuh menjadi simpanse yang cerdas seperti manusia. Dia menurunkan gen ibunya yang memang sudah terpapar dengan serum ciptaan Rodman.

Cerita berlanjut tanpa gejolak berarti. Diceritakan bagaimana Rodman, ayahnya, Caesar,  dan sang dokter hewan yang kemudian menjadi kekasih Rodman, Caroline Aranha (Freida Pinto), coba membangun sebuah keluarga. Caesar tumbuh menjadi simpanse cerdas, kuat, dan juga mulai memertanyakan mengapa ia diperlakukan seperti peliharaan dengan otak yang sama dengan Rodman dan manusia lainnya. Di sinilah konflik bermula.

Caesar coba menahan pertanyaan di benaknya sampai suatu saat Charles, ayah Rodman, yang justru makin parah kepikunannya setelah disuntikkan serum, ribut dengan tetangganya. Caesar yang ingin melindungi keluarganya, menyerang sang tetangga hingga terluka parah. Caesar pun ditempatkan di sebuah penjara khusus primata. Di sinilah pertanyaan-pertanyaan Caesar yang memertanyakan perlakuan manusia terhadap dirinya mulai membuncah. Terlebih dengan perlakuan sipir penjara yang ia anggap merendahkan “kaum”-nya. Dengan mengandalkan intelegensianya, Caesar merencanakan revolusi dari penjara.

Caesar diperankan secara apik oleh Andy Serkis yang seingat saya hanya perlu melafalkan dialog sebanyak dua kali. Bagaimana Caesar coba merencakan revolusi dari penjara mungkin akan mengingatkan kita pada novel Animal Farm –nya George Orwell. Dimana dua ekor babi, Snowball dan Napoleon, coba membuat sebuah struktur berdaulat yang merupakan sebuah upaya unjuk resistensi terhadap sang pemilik peternakan yang tak bertanggung jawab, Mr Jones.

Tak perlu banyak dialog. Bagaimana Caesar dan teman-temannya memainkan mimik muka dan bertindak-tanduk sudah cukup menjadi narasi Wyatt untuk menggambarkan pergolakan para primata untuk melawan primata lainnya yang sewenang-wenang : manusia. Bagaimana Caesar coba berkomunikasi dengan seekor orang utan sirkus, Maurice, dengan bahasa isyarat juga menjadi bagian menarik, lucu, dan menggemaskan dari film ini. Entah mengapa, Wyatt berhasil membuat saya begitu membenci kaum manusia dan menginginkan revolusi yang dipimpin Caesar menjadi berhasil.

Secara keseluruhan, film ini berhasil menghadirkan tawa renyah, rasa iba, dan konflik layaknya film-film yang menceritakan resistensi kaum lemah terhadap kaum yang berkuasa seperti Defiance. Ya, Caesar seolah-olah jadi pengejawantahan lain Tuvia Bielski (Daniel Craig) yang menentang kesewenang-wenangan tentara Nazi dalam Defiance. Sebuah film layak tonton dan wajib untuk ditunggu sequel -nya

Rating : 8.5/10