To Infinity and Beyond, 2001: A Space Odyssey

Standard

oleh: Aldamayo Panjaitan

Science-fiction, jika kata itu disebutkan maka beberapa judul yang terlintas di benak kita mungkin adalah Star Wars, Star Trek, Battlestar Galactica atau Stargate. Tidak salah, sama sekali tidak salah, malah saya sendiri merupakan penikmat (okay, okay, i’m a geek) dari Star Wars. Tapi sci-fi tidak melulu soal konflik-konflik di luar angkasa yang melibatkan laser, phaser dan lightsaber, siapa sangka, sci-fi bisa menjadi suatu medium kontemplasi filosofis akan kehidupan manusia atau lebih luasnya, eksistensi seluruh alam raya ini.

Stanley Kubrick adalah yang bertanggungjawab menyutradarai film ambisius ini, sedangkan Arthur C.Clarke menyediakan plot dan ide-ide ilmiah untuk film yang kemudian diberi judul 2001: A Space Odyssey ini, film yang akan selalu diingat mereka yang menontonnya. Film ini diproduksi pada tahun 1966-1968 dan dirilis pada tahun 1968 dengan reaksi yang sangat ekstrem, golongan muda sangat menikmati sajian visual dan ide-ide yang ditumpahkan di film ini, sedangkan golongan tua menganggap film ini hanyalah sebuah film druggy untuk para hippie. Mungkin mereka tidak salah, tapi mereka juga tidak sepenuhnya benar.

Film fenomenal ini dibuka dengan layar gelap selama beberapa menit sambil diiringi musik orkestra yang mengerikan, lalu muncul gambar bulan, bumi dan matahari dalam posisi segaris, dibungkus dengan megahnya alunan Also Sprach Zarathustra karya Richard Strauss (ide-ide Nietzschean memang sarat di dalam film ini, banyak metafor-metafor ke konsep eternal recurrence dan juga Ubermensch). Lalu penonton dibawa ke masa prasejarah dimana manusia masih berbentuk seperti kera, yang nir-pengetahuan dan hanya mengandalkan insting. Kita diajak melihat aktivitas sehari-hari manusia kera ini sampai pada akhirnya sekumpulan manusia kera lain mengusir kelompok manusia kera ini dari lubang air tempat mereka minum (dan menjadi pusat aktivitas mereka). Keesokan paginya, sebuah benda yang jelas-jelas tidak alamiah muncul di hadapan kelompok yang terusir ini, benda ini merupakan monolith hitam berbentuk balok. Manusia kera itu semua ketakutan tapi tidak menghalangi mereka untuk mencoba menyentuh benda ini. Sesuatu pun terjadi, walalupun tidak diberitahu secara eksplisit dalam film.

Keesokan harinya salah satu manusia kera memandangi sebuah tulang hewan, memegangnya, berpikir keras (dan terlintas satu frame singkat monolith hitam tersebut, seakan memberi tahu si manusia kera apa yang harus dilakukannya) dan kemudian ia mengayun-ayunkan tulang tersebut sampai menghancurkan tengkorak hewan yang darimana tulang itu diambil.

Lethal Weapon, without Gibson and Glover of course..

Ya, umat manusia telah menemukan senjata pertama mereka. Tanpa menunggu berlama-lama, kelompok manusia kera ini segera menyerang kelompok yang merampok lubang air mereka dengan bersenjatakan tulang. Menang telak, salah satu manusia kera melempar senjata tulangnya ke langit. Disinilah terjadi salah satu jump-cut paling megah dalam sejarah film, kamera menyorot tulang yang terlempar di langit dan pada saat tulang tersebut jatuh, Kubrick meng-cut ke shot sebuah satelit nuklir yang sedang terbang di orbit bumi. Betul sekali, loncatan evolusi senjata manusia dalam satu jump-cut.

Film ini begitu realistis, karena di luar angkasa merupakan ruang vakum, tidak ada suara yang bisa dihasilkan dalam adegan yang melibatkan ruang hampa udara, maka Kubrick menyajikan musik klasik The Blue Danube yang indah selagi kita mengikuti perjalanan pesawat antariksa Pan-Am dari bumi yang akan berlabuh di Stasiun Transit Luar Angkasa sebelum melanjutkan perjalanan ke bulan. Ada apa di bulan? Kubrick dengan cerdik membeberkan sedikit demi sedikit petunjuk sambil tetap memamerkan set properti masa depan yang sangat posh di dalam stasiun luar angkasa tersebut. Saat karakter yang kita ikuti, Floyd, sampai di bulan, penonton menyadari bahwa kedatangannya adalah untuk mengamati kehadiran monolith hitam (yang di awal film) di dalam bagian bulan yang menjadi jurisdiksi Amerika Serikat (dalam film ini Bulan telah terbagi-bagi jurisdiksinya ke tangan berbagai negara). Adegan di Bulan diakhiri dengan sesuatu yang mengejutkan, baik bagi Floyd dan pula penonton.

18 Months Later, Mission to Jupiter. Demikian tulisan di layar saat kita diajak “melompat” lagi ke masa depan. Kali ini, shot panjang dari wahana antariksa Discovery menghiasi layar, membelah kosongnya luar angkasa menuju Jupiter. Kenapa Jupiter? apa hubungannya dengan manusia kera dan perjalanan ke bulan?

Di dalam Discovery terdapat 6 orang astronot, tetapi 4 diantara mereka ada di dalam kondisi hibernasi, dibekukan dan hanya akan “dihidupkan” kembali jika sudah sampai ke Jupiter. 2 astronot lain adalah Dave (Keir Dullea) dan Poole (Gary Lockwood) yang digambarkan sebagai 2 orang manusia yang terlanda kebosanan luar biasa dan hanya melakukan aktivitas rutin belaka, tapi mereka tidak sendirian, Discovery sendiri dijalankan sepenuhnya oleh sebuah superkomputer bernama HAL 9000, superkomputer yang seperti dikutip dalam film, “foolproof, and incapable of error”. Cerita berkembang tentang bagaimana HAL bertindak makin aneh (apakah HAL mengetahui apa yang Dave dan Poole tidak ketahui?) dan pada akhirnya HAL berubah menjadi antagonis utama yang bertekad menghabisi nyawa semua manusia di dalam Discovery. Sebagai upaya terakhir, Dave yang sedang mengeluarkan semua prosesor (otak) HAL akhirnya menyadari apa yang HAL selama ini rahasiakan, dan kenapa misi mereka bertujuan ke Jupiter.

This is HAL 9000. This your worst nightmare.

Segmen terakhir dari film ini adalah perjalanan Dave di dalam sebuah wormhole yang diciptakan oleh makhluk asing (yang tidak digambarkan dalam film) menuju sebuah tempat yang tidak bisa dijelaskan logika (eternity? test lab?). Sampai pada akhirnya Dave terperangkap di dalam sebuah ruangan yang sama persis seperti di bumi. Apakah ini semua ada di pikiran Dave? apakah ini adalah test-lab para alien yang mengambil suasana bumi? Kubrick tidak pernah menjelaskannya, semuanya tergantung interpretasi kita. Inilah kenapa 2001 menjadi film yang sangat luar biasa, film ini selalu mengajak kita berpikir sambil tetap menyajikan shot-shot indah sepanjang film. Puncak dari segala absurditas segmen terakhir adalah ketika Dave berubah menjadi sebuah fetus yang nampaknya sedang mengamati planet Bumi dari luar angkasa, tapi patut dicatat, tidak ada lagi satelit nuklir di orbit, tidak ada lagi senjata yang bisa menghabisi umat manusia seketika. Ini adalah pesan tentang harapan perdamaian.

Ada banyak sekali interpretasi mengenai 2001. Kita bisa melihat metafor dari Nietzsche dan teori Ubermensch-nya yang mengatakan “apalah seorang kera bagi manusia, selain jadi bahan tertawaan. Seperti itulah manusia dari mata seorang Ubermensch” dari adegan awal. Apakah monolith itu benar-benar diturunkan oleh para makhluk asing untuk memajukan peradaban manusia? dan apakah peradaban harus selalu bersanding dengan munculnya senjata? Kenapa makhluk-makhluk itu “menculik” Dave dan memasukkannya ke dalam sebuah lingkungan yang mirip dengan bumi? Itu adalah berbagai pertanyaan yang muncul jika kita menyaksikan film ini.2001 bukan sebuah sci-fi “seru” yang penuh tembak-tembakan dan adegan laga, film ini penuh dengan simbol, musik klasik, suara nafas astronot, dan juga superkomputer yang memiliki “perasaan”. Jika anda mencari sebuah film yang mengajak anda berpikir mengenai esensi kehidupan manusia dan posisi kita di alam semesta ini, ini adalah film yang sempurna.

2001: A Space Odyssey: 9.7/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s