Deep Throat, Pornografi, dan Kita

Standard

Oleh : Togar Tandjung

Sebagian besar mereka yang membaca entri ini pasti mengetahui -minimal pernah dengar- siapa itu Maria Ozawa. Atau Sasha Grey. Atau Asia Carrera, Terra Patrick, hingga Vicky Vette yang kicauannya cukup mencuri perhatian pengguna Twitter di Indonesia. Ya, mereka adalah para wanita yang rela mempertontonkan kemolekan tubuhnya kepada jutaan penyaksi film porno (termasuk yang di Indonesia).

Tapi, pernahkah anda mendengar Linda Lovelace? Mungkin ada yang pernah tapi saya yakin tidak terlalu banyak. Linda Lovelace tak beda dengan nama-nama yang saya sebutkan di awal tadi. Dia adalah -seperti nama-nama yang saya sebutkan di awal tadi- seorang pemeran wanita yang mungkin akan lebih ditunggu lenguhannya di ranjang ketimbang kualitas aktingnya.

Pada tahun 1972, ada “revolusi” di Amerika Serikat. Bukan, saya tidak sedang membicarakan skandal Watergate yang tersohor itu. Ada “revolusi pornografi” di masa itu. Gerard Damiano -tentu lagi-lagi pecinta film jarang mendengar nama ini ketimbang Martin Scorsese- membuat film porno berjudul Deep Throat. Linda Lovelace, sang pemeran wanita, mendapat porsi sebagai pemeran utama di sana.

Diceritakan seorang wanita (Lovelace) mengalami kesulitan untuk mengalami orgasme. Setelah sebuah pesta seks tidak juga membantu, sang wanita disarankan temannya untuk mendatangi dokter. Sang dokter menemukan bahwa klitoris wanita tadi berada di tenggorokannya. Sang dokter (lelaki) menyarankan wanita tersebut untuk melakukan oral sex agar memudahkannya mencapai klimaks. Selebihnya, tak ada cerita yang istimewa dari Deep Throat (seperti film porno lainnya yang memang lebih berfokus adegan seks ketimbang alur cerita).

Ber- budget tak lebih dari $ 50,000 (menurut The New York Times terbitan 1973) Deep Throat konon meraup keuntungan hingga $600 juta (menurut dokumenter tentang film ini, Inside Deep Throat, yang dibuat oleh Fenton Bailey dan Randy Barbato pada tahun 2005). Ribuan orang berbondong-bondong untuk menyaksikan film porno ini semenjak pertama kali diputar pada 12 Juni 1972 di World Theater, New York. Dilarang beredar di berbagai wilayah Amerika Serikat, Deep Throat tetap menarik minat  warga Amerika Serikat yang menurut dokumenter tadi kebanyakan datang dari kalangan menengah ke atas.

Lovelace mungkin tak akan pernah sepopular  artis macam Meryl Streep hingga Julia Roberts. Tapi, sebagaimana dikatakan kritikus film pemenang Pulitzer Roger Ebert, Deep Throat adalah sebuah pemberontakan kultural. Di masa itu, telanjang di depan kamera kemudian disaksikan jutaan pasang mata belum sebegitu popular seperti sekarang. Kalaupun itu dilakukan dalam film porno, maka film tersebut kemungkinan besar bukanlah film yang sohor alih-alih distribusinya dilakukan sembunyi-sembunyi di jaringan bawah tanah. Agak kembali ke beberapa saat sebelum Deep Throat diputar, kita mungkin ingat nama macam Marilyn Monroe atau Jane Maynsfield atas keberaniannya mempertontonkan tubuh di depan kamera dan memang hal tersebut digunakan sebagai “akselelator” popularitas mereka. Tentu hal ini berbeda dengan kekinian. Angelina Jolie yang beberapa kali mempertontonkan payudaranya di film, (dan yang paling “menggetarkan” tentunya di Original Sin) tidak terlalu diributkan seperti masa itu. Di era film sekarang ini, Hollywood terutama,  anda tidak cukup mempertontonkan ketelanjangan di depan kamera untuk memperoleh popularitaas. Ketelanjangan di sebuah adegan seks dalam film mainstream bukanlah hal yang terlalu istimewa lagi untuk digembar-gemborkan layaknya era Monroe dan Maynsfield.

Deep Throat sering dinilai sebagai pembuka jalan ke arah sana. Sebagai pintu gerbang di mana liberalisasi ranah seksualitas mulai memasuki ruang keluarga masyarakat Amerika Serikat (dan mungkin Indonesia dan negara-negara lainnya yang cukup terpengaruh kultur Hollywood). Embel-embel di belakang pembuatan film ini seperti keterlibatan jaringan mafia dalam produksinya sebagai medium pencucian uang hingga pengakuan salah satu pemeran wanita dalam film ini, Linda Boreman, yang melakukan adegan seks di bawah ancaman todongan senjata, hanya menambah “kehebatan” film ini sebagai cult di dunia sinema dan kultur pop Amerika Serikat. Bahkan, magis film ini juga dapat ditemukan apabila anda menyaksikan film berjudul All The President’s Men yang diangkat dari kisah nyata pembongkaran skandal Watergate. Dalam film (dan kenyataan), Howard Simons, editor Wahington Post, memilih istilah “Deep Throat” untuk menyebut informannya -Mark Felt- dalam membongkar konspirasi yang melengserkan Presiden Nixon ini.

Tentu esai pendek ini hanyalah sebuah deskripsi dan bukanlah penilaian terhadap kekuatan cerita dari sebuah film porno. Saya tak  yakin seseorang (anda, saya, kita) menyaksikan film porno untuk tujuan lain selain membuat dirinya terangsang. Deep Throat, sebagai jalinan cerita, bukan apa-apa dibandingkan film-film lainnya yang memiliki implikasi kultural sangat besar layaknya Star Wars hingga Harry Potter. Tapi, barangkali, ketika hal remeh seperti lenguhan di atas ranjang masih membuat penasaran banyak orang, Deep Throat hadir di saat yang tepat. Karena film yang “baik” terkadang tidak melulu ditentukan dari besarnya biaya atau kompleksitas cerita. Tapi sejauh mana dia membuat kita penasaran dan membuat kita menjadi orang “yang lain” setelah selesai menontonnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s