Psikedelia di Era Informatika, Innerspeaker

Standard

lots of trees, trees, trees, rees, rees, rees, ees, ees, ees, es, es, es, s, s, s....

oleh: Aldamayo Panjaitan

Lirik yang surealis, kadang kekanakan, hentakan ritme yang bisa menyihir alam bawah sadar, melodi yang meliuk tidak wajar, balutan gitar penuh efek, dan tentunya kesan synth warna-warni yang luar biasa kaya. Itu semua adalah ciri-ciri dari musik psikedelik (walaupun tidak terbatas pada itu saja tentunya). Pada awalnya, musik psikedelik tampaknya hanya bisa dinikmati oleh kaum hippies yang (mau tak mau) juga adalah pemadat obat-obatan dan tentunya zat dari segala zat, LSD. Tak bisa dipungkiri bahwa lahirnya musik psikedelik dipicu oleh penggunaan obat-obatan tersebut yang mempunyai efek mind-expanding yang sanggup membuat pemakainya mengalami sensasi alam raya yang lebih kaya. Tapi tak sedikit pula dari mereka yang harus menanggung akibat fatal dari penggunaan tersebut, contohnya adalah Brian Jones yang tewas di kolam renang rumahnya dan juga Syd Barrett yang oleh Pink Floyd dicap secara mental tidak sanggup lagi bermusik secara profesional karena pikirannya sudah terlalu drugged.

Setelah gebrakan-gebrakan musik psikedelik yang dilakukan oleh Jefferson Airplane, The Beatles, The Doors, dan Pink Floyd perkembangan musik psikedelik murni nampaknya mengalami stagnasi atau malah kemunduran. Sampai pada akhirnya di akhir tahun 2000an ini muncul beberapa band psikedelik yang pantas didengar dan dinikmati, contohnya adalah MGMT, Animal Collective dan Tame Impala.

Tame Impala sendiri adalah proyek pribadi dari seorang sick genius bernama Kevin Parker, seorang pemuda penyendiri yang berasal dari Perth, Australia. Yes you read that right, Australia, dari benua yang minim diekspos dunia musiknya inilah lahir satu band (mari sebut saja band supaya lebih mudah) yang mempunyai sound yang benar-benar unik ini. Kevin Parker sejak kecil menggemari rekaman amatir di kamarnya dengan tracker kuno dan dengan sendirinya handal memainkan semua instrumen musik. Hal ini terbawa sampai kepada proses pembuatan album Innerspeaker, album debut Tame Impala. Parker memainkan semuanya di album ini, literally semuanya, dari vokal, gitar, drum, bas, keyboard, vibes, suara latar dan efek. Hanya ada beberapa part yang dibantu oleh personil lain Tame Impala yang adalah sobat baik Parker sendiri, yaitu Dominic Simper dan Jay Watson.

Innerspeaker dimulai dengan alunan hipnotik dari lagu “It Is Not Meant To Be” yang mempunyai lirik yang cukup simpel tentang cinta (but not that simple, trust me), anda akan dikejutkan dengan bagaimana suara Kevin Parker menyerupai suara John Lennon pada periode Beatles yang psikedelik! lagu ini menjadi mood-setter yang pas dengan balutan lapisan suara yang bisa membuat anda berkontemplasi sambil rileks di ruang dengar anda. Dilanjutkan dengan hentakan drum repetitif dan riff fuzz renyah di “Desire Be Desire Go” yang cukup catchy (untuk ukuran album ini). Lagu ketiga dimulai dengan sedikit intro funk-ish lalu dilanjutkan dengan desisan keyboard yang tebal yang menjadi motor penggerak dari lagu “Alter Ego”. Sedangkan lagu keempat langsung menghentak telinga anda dengan Parker yang mengeluh “I know where you went but I don’t know how you get there”, suatu pertanyaan yang bisa jadi simpel, tapi bisa jadi punya suatu interpretasi kompleks lain, lagu ini sangat berbobot dan adalah salah satu track terkuat di album ini. Ritem gitar, betotan bas dan aransemen drum yang didesain begitu kacau tapi terkendali terdengar sangat pas. Lagu berikut adalah suatu lagu yang nampaknya dibuat sebagai salah satu lagu radio-friendly di album ini, yaitu “Why Won’t You Make Up Your Mind” yang tentu saja tetap berkualitas, simak baik-baik sensasi stereo-panning dari kiri ke kanan di lagu ini, really is a joy to hear. “Solitude Is Bliss” mengiris dengan kocokan gitar flang yang terdengar normal, tetapi begitu Parker mulai bernyanyi di bait pertama kita akan sadar ini adalah lagu yang luar biasa dengan struktur yang tidak biasa dan dibumbui pengaruh musik ketimuran menjelang reff. Lagu ini adalah single utama dari album ini, secara musik sangatlah indah dan diproduksi dengan sempurna pula. Setelah “Solitude Is Bliss” (pasti anda akan memencet tombol replay berulang-ulang), kita disuguhi instrumental mabuk “Jeremy’s Storm” yang menjadi bukti dari kejeniusan Tame Impala dalam merangkai nada-nada hipnotik menjadi kesatuan yang indah, tentu dibalut layer-layer sound yang magis. Lalu telinga anda akan dihajar oleh 2 kord yang diulang-ulang sebagai pembuka lagu “Expectation”, lagu cerdas dengan drum yang berat dan lead gitar lincah yang sepertinya sengaja “ditenggelamkan” di dalam lautan suara, perhatikan pula synth di lagu ini, menghiasi tanpa perlu mengambil perhatian ekstra, penempatan yang sangat cerdik. “The Bold Arrow of Time” adalah sebuah lagu psychedelic blues yang punya sound gitar dirty yang khas, terdengar seperti Cream yang hidup kembali! Tensi kembali dinaikkan dengan “Runway, Houses, City, Clouds” dengan hentakan cepat bas drum yang kemudian melebur kedalam melodi tenang yang nanti akan ditimpali lagi oleh hentakan intro, permainan dinamika yang apik oleh Tame Impala. Lagu terakhir adalah “I Really Don’t Mind”, lagu simpel yang cocok untuk sing-along, sangat straightforward tetapi tanpa kehilangan identitas psikedelianya.

Album ini adalah sebuah album psikedelik yang bisa memuaskan dahaga akan musik-musik psikedelik bermutu dari masa-masa yang telah lalu. Tidak ada lagu filler di album ini, semua track sama kuat, yang menjadikan album ini tidak bisa didengar per lagu, harus sebagai satu kesatuan agar sensasi yang dirasa pendengar bisa maksimal. Pada akhirnya, Innerspeaker adalah sebuah karya seni kontemporer yang sangat berkualitas, patut didengar penikmat musik manapun.

Innerspeaker – Tame Impala: 8.5/10

(R)Evolusi

Standard

Oleh : Togar Tandjung

Sebuah perusahaan farmasi, Gen-Sys tengah membuat sebuah mega proyek yang bertujuan untuk meningkatkan kerja otak dan menyembuhkan Alzheimer. Gen-Sys, dipimpin oleh ilmuwan muda bernama Will Rodman (James Franco), mengembangkan terapi gen yang menjadikan dua belas ekor simpanse sebagai target percobaannya. Seekor simpanse yang diberi nama Bright Eyes dibuat memiliki kecerdasan yang menyamai manusia. Namun, percobaan itu dianggap gagal ketika Bright Eyes mengamuk di kantor Gen-Sys. Bright Eyes ditembak mati. Ketika ditembak mati, Bright Eyes sedang mengandung seekor simpanse jantan. Amuk dari Bright Eyes bukanlah akibat dari terapi gen yang diberikan kepadanya, tetapi sifat posesif seorang ibu untuk melindungi anak yang ia kandung.

Syahdan, proyek yang dipimpin Will Rodman tadi dibatalkan dan sisa simpanse lainnya dihabisi. Tapi tidak dengan anak dari Bright Eyes yang dapat diselamatkan dari rahim ibunya yang mati. Rodman, yang iba, membawanya pulang dan merawatnya.

Begitulah semuanya bermula. Sebuah reboot dari serial Planet Of The Apes (1968) berjudul Rise of The Planet of The Apes yang baru-baru ini saya tonton dan menjadi satu dari sedikit fiksi-saintifik yang membuat saya berdecak kagum. Tahun 2001, Tim Burton sudah coba membuat remake versi 1968. Tapi, seingat saya, saya tertidur saat menontonnya dalam format DVD.

Rise of The Planet of The Apes adalah yang paling mendekati “kenyataan” dari semua seri Planet of The Apes yang diangkat dari karya novelis Prancis, Pierre Boulle, berjudul La Planete des Singes. Saya memang belum menonton versi 1968 dan seri-seri selanjutnya sebelum versi remake tahun 2001. Saya juga belum pernah membaca novel Boulle. Tapi, Rupert Wyatt, sang sutradara, tampaknya memang lebih “memanusiakan” serial ini lewat filmnya. Dari awal kita tidak langsung dihadirkan dengan adegan fantasi di luar angkasa seperti versi 2001 yang memang murni diangkat dari versi 1968 dan novel Boulle –meski jembatan ke versi asli dari Boulle tersebut coba dihadirkan Wyatt secara sekilas dalam film ini.

Dari awal kita akan melihat bagaimana hubungan “romantis” dari Rodman dan Caesar –sang anak Bright Eyes tadi diberi nama ini oleh ayah Rodman- dan bagaimana Rodman berjuang untuk menyembuhkan ayahnya dari penyakit Alzheimer hingga ia memutuskan untuk menjadikannya sebagai kelinci percobaan. Rodman berhasil menyembuhkan ayahnya, tapi hanya temporer dan kepikunan ayahnya bertambah parah. Caesar sendiri tumbuh menjadi simpanse yang cerdas seperti manusia. Dia menurunkan gen ibunya yang memang sudah terpapar dengan serum ciptaan Rodman.

Cerita berlanjut tanpa gejolak berarti. Diceritakan bagaimana Rodman, ayahnya, Caesar,  dan sang dokter hewan yang kemudian menjadi kekasih Rodman, Caroline Aranha (Freida Pinto), coba membangun sebuah keluarga. Caesar tumbuh menjadi simpanse cerdas, kuat, dan juga mulai memertanyakan mengapa ia diperlakukan seperti peliharaan dengan otak yang sama dengan Rodman dan manusia lainnya. Di sinilah konflik bermula.

Caesar coba menahan pertanyaan di benaknya sampai suatu saat Charles, ayah Rodman, yang justru makin parah kepikunannya setelah disuntikkan serum, ribut dengan tetangganya. Caesar yang ingin melindungi keluarganya, menyerang sang tetangga hingga terluka parah. Caesar pun ditempatkan di sebuah penjara khusus primata. Di sinilah pertanyaan-pertanyaan Caesar yang memertanyakan perlakuan manusia terhadap dirinya mulai membuncah. Terlebih dengan perlakuan sipir penjara yang ia anggap merendahkan “kaum”-nya. Dengan mengandalkan intelegensianya, Caesar merencanakan revolusi dari penjara.

Caesar diperankan secara apik oleh Andy Serkis yang seingat saya hanya perlu melafalkan dialog sebanyak dua kali. Bagaimana Caesar coba merencakan revolusi dari penjara mungkin akan mengingatkan kita pada novel Animal Farm –nya George Orwell. Dimana dua ekor babi, Snowball dan Napoleon, coba membuat sebuah struktur berdaulat yang merupakan sebuah upaya unjuk resistensi terhadap sang pemilik peternakan yang tak bertanggung jawab, Mr Jones.

Tak perlu banyak dialog. Bagaimana Caesar dan teman-temannya memainkan mimik muka dan bertindak-tanduk sudah cukup menjadi narasi Wyatt untuk menggambarkan pergolakan para primata untuk melawan primata lainnya yang sewenang-wenang : manusia. Bagaimana Caesar coba berkomunikasi dengan seekor orang utan sirkus, Maurice, dengan bahasa isyarat juga menjadi bagian menarik, lucu, dan menggemaskan dari film ini. Entah mengapa, Wyatt berhasil membuat saya begitu membenci kaum manusia dan menginginkan revolusi yang dipimpin Caesar menjadi berhasil.

Secara keseluruhan, film ini berhasil menghadirkan tawa renyah, rasa iba, dan konflik layaknya film-film yang menceritakan resistensi kaum lemah terhadap kaum yang berkuasa seperti Defiance. Ya, Caesar seolah-olah jadi pengejawantahan lain Tuvia Bielski (Daniel Craig) yang menentang kesewenang-wenangan tentara Nazi dalam Defiance. Sebuah film layak tonton dan wajib untuk ditunggu sequel -nya

Rating : 8.5/10

To Infinity and Beyond, 2001: A Space Odyssey

Standard

oleh: Aldamayo Panjaitan

Science-fiction, jika kata itu disebutkan maka beberapa judul yang terlintas di benak kita mungkin adalah Star Wars, Star Trek, Battlestar Galactica atau Stargate. Tidak salah, sama sekali tidak salah, malah saya sendiri merupakan penikmat (okay, okay, i’m a geek) dari Star Wars. Tapi sci-fi tidak melulu soal konflik-konflik di luar angkasa yang melibatkan laser, phaser dan lightsaber, siapa sangka, sci-fi bisa menjadi suatu medium kontemplasi filosofis akan kehidupan manusia atau lebih luasnya, eksistensi seluruh alam raya ini.

Stanley Kubrick adalah yang bertanggungjawab menyutradarai film ambisius ini, sedangkan Arthur C.Clarke menyediakan plot dan ide-ide ilmiah untuk film yang kemudian diberi judul 2001: A Space Odyssey ini, film yang akan selalu diingat mereka yang menontonnya. Film ini diproduksi pada tahun 1966-1968 dan dirilis pada tahun 1968 dengan reaksi yang sangat ekstrem, golongan muda sangat menikmati sajian visual dan ide-ide yang ditumpahkan di film ini, sedangkan golongan tua menganggap film ini hanyalah sebuah film druggy untuk para hippie. Mungkin mereka tidak salah, tapi mereka juga tidak sepenuhnya benar.

Film fenomenal ini dibuka dengan layar gelap selama beberapa menit sambil diiringi musik orkestra yang mengerikan, lalu muncul gambar bulan, bumi dan matahari dalam posisi segaris, dibungkus dengan megahnya alunan Also Sprach Zarathustra karya Richard Strauss (ide-ide Nietzschean memang sarat di dalam film ini, banyak metafor-metafor ke konsep eternal recurrence dan juga Ubermensch). Lalu penonton dibawa ke masa prasejarah dimana manusia masih berbentuk seperti kera, yang nir-pengetahuan dan hanya mengandalkan insting. Kita diajak melihat aktivitas sehari-hari manusia kera ini sampai pada akhirnya sekumpulan manusia kera lain mengusir kelompok manusia kera ini dari lubang air tempat mereka minum (dan menjadi pusat aktivitas mereka). Keesokan paginya, sebuah benda yang jelas-jelas tidak alamiah muncul di hadapan kelompok yang terusir ini, benda ini merupakan monolith hitam berbentuk balok. Manusia kera itu semua ketakutan tapi tidak menghalangi mereka untuk mencoba menyentuh benda ini. Sesuatu pun terjadi, walalupun tidak diberitahu secara eksplisit dalam film.

Keesokan harinya salah satu manusia kera memandangi sebuah tulang hewan, memegangnya, berpikir keras (dan terlintas satu frame singkat monolith hitam tersebut, seakan memberi tahu si manusia kera apa yang harus dilakukannya) dan kemudian ia mengayun-ayunkan tulang tersebut sampai menghancurkan tengkorak hewan yang darimana tulang itu diambil.

Lethal Weapon, without Gibson and Glover of course..

Ya, umat manusia telah menemukan senjata pertama mereka. Tanpa menunggu berlama-lama, kelompok manusia kera ini segera menyerang kelompok yang merampok lubang air mereka dengan bersenjatakan tulang. Menang telak, salah satu manusia kera melempar senjata tulangnya ke langit. Disinilah terjadi salah satu jump-cut paling megah dalam sejarah film, kamera menyorot tulang yang terlempar di langit dan pada saat tulang tersebut jatuh, Kubrick meng-cut ke shot sebuah satelit nuklir yang sedang terbang di orbit bumi. Betul sekali, loncatan evolusi senjata manusia dalam satu jump-cut.

Film ini begitu realistis, karena di luar angkasa merupakan ruang vakum, tidak ada suara yang bisa dihasilkan dalam adegan yang melibatkan ruang hampa udara, maka Kubrick menyajikan musik klasik The Blue Danube yang indah selagi kita mengikuti perjalanan pesawat antariksa Pan-Am dari bumi yang akan berlabuh di Stasiun Transit Luar Angkasa sebelum melanjutkan perjalanan ke bulan. Ada apa di bulan? Kubrick dengan cerdik membeberkan sedikit demi sedikit petunjuk sambil tetap memamerkan set properti masa depan yang sangat posh di dalam stasiun luar angkasa tersebut. Saat karakter yang kita ikuti, Floyd, sampai di bulan, penonton menyadari bahwa kedatangannya adalah untuk mengamati kehadiran monolith hitam (yang di awal film) di dalam bagian bulan yang menjadi jurisdiksi Amerika Serikat (dalam film ini Bulan telah terbagi-bagi jurisdiksinya ke tangan berbagai negara). Adegan di Bulan diakhiri dengan sesuatu yang mengejutkan, baik bagi Floyd dan pula penonton.

18 Months Later, Mission to Jupiter. Demikian tulisan di layar saat kita diajak “melompat” lagi ke masa depan. Kali ini, shot panjang dari wahana antariksa Discovery menghiasi layar, membelah kosongnya luar angkasa menuju Jupiter. Kenapa Jupiter? apa hubungannya dengan manusia kera dan perjalanan ke bulan?

Di dalam Discovery terdapat 6 orang astronot, tetapi 4 diantara mereka ada di dalam kondisi hibernasi, dibekukan dan hanya akan “dihidupkan” kembali jika sudah sampai ke Jupiter. 2 astronot lain adalah Dave (Keir Dullea) dan Poole (Gary Lockwood) yang digambarkan sebagai 2 orang manusia yang terlanda kebosanan luar biasa dan hanya melakukan aktivitas rutin belaka, tapi mereka tidak sendirian, Discovery sendiri dijalankan sepenuhnya oleh sebuah superkomputer bernama HAL 9000, superkomputer yang seperti dikutip dalam film, “foolproof, and incapable of error”. Cerita berkembang tentang bagaimana HAL bertindak makin aneh (apakah HAL mengetahui apa yang Dave dan Poole tidak ketahui?) dan pada akhirnya HAL berubah menjadi antagonis utama yang bertekad menghabisi nyawa semua manusia di dalam Discovery. Sebagai upaya terakhir, Dave yang sedang mengeluarkan semua prosesor (otak) HAL akhirnya menyadari apa yang HAL selama ini rahasiakan, dan kenapa misi mereka bertujuan ke Jupiter.

This is HAL 9000. This your worst nightmare.

Segmen terakhir dari film ini adalah perjalanan Dave di dalam sebuah wormhole yang diciptakan oleh makhluk asing (yang tidak digambarkan dalam film) menuju sebuah tempat yang tidak bisa dijelaskan logika (eternity? test lab?). Sampai pada akhirnya Dave terperangkap di dalam sebuah ruangan yang sama persis seperti di bumi. Apakah ini semua ada di pikiran Dave? apakah ini adalah test-lab para alien yang mengambil suasana bumi? Kubrick tidak pernah menjelaskannya, semuanya tergantung interpretasi kita. Inilah kenapa 2001 menjadi film yang sangat luar biasa, film ini selalu mengajak kita berpikir sambil tetap menyajikan shot-shot indah sepanjang film. Puncak dari segala absurditas segmen terakhir adalah ketika Dave berubah menjadi sebuah fetus yang nampaknya sedang mengamati planet Bumi dari luar angkasa, tapi patut dicatat, tidak ada lagi satelit nuklir di orbit, tidak ada lagi senjata yang bisa menghabisi umat manusia seketika. Ini adalah pesan tentang harapan perdamaian.

Ada banyak sekali interpretasi mengenai 2001. Kita bisa melihat metafor dari Nietzsche dan teori Ubermensch-nya yang mengatakan “apalah seorang kera bagi manusia, selain jadi bahan tertawaan. Seperti itulah manusia dari mata seorang Ubermensch” dari adegan awal. Apakah monolith itu benar-benar diturunkan oleh para makhluk asing untuk memajukan peradaban manusia? dan apakah peradaban harus selalu bersanding dengan munculnya senjata? Kenapa makhluk-makhluk itu “menculik” Dave dan memasukkannya ke dalam sebuah lingkungan yang mirip dengan bumi? Itu adalah berbagai pertanyaan yang muncul jika kita menyaksikan film ini.2001 bukan sebuah sci-fi “seru” yang penuh tembak-tembakan dan adegan laga, film ini penuh dengan simbol, musik klasik, suara nafas astronot, dan juga superkomputer yang memiliki “perasaan”. Jika anda mencari sebuah film yang mengajak anda berpikir mengenai esensi kehidupan manusia dan posisi kita di alam semesta ini, ini adalah film yang sempurna.

2001: A Space Odyssey: 9.7/10

Harapan dan Kebebasan, The Shawshank Redemption

Standard

drenched in freedom

oleh kontributor tamu: William Surya Darma

Ada satu pertanyaan yang akan anda jawab dengan mudah jika saya tanyakan : “Sebutkan 10 Film yang bertema penjara!”.  Bagaimana ? anda kemungkinan besar bisa menyebutkannya dengan cepat dan lantang. Tapi bagaimana kalau saya ganti pertanyaannya menjadi : “Sebutkan 5 Saja Film bertemakan penjara yang berkualitas tinggi menurut banyak kalangan!”.  Sedikit Kesulitan? Kalau begitu izinkan saya untuk mengenalkan satu film kepada anda, The Shawshank Redemption. Film yang dirilis Tahun 1994 oleh Castle Rock Entertainment ini diadaptasi dari salah satu buku yang ditulis oleh salah seorang novelis terbaik yang pernah hidup, Stephen King. Praktis, sebelum film ini dirilis, nama yang dipandang bukanlah nama sang sutradara, Frank Darabont, yang kala itu belum teruji dalam membuat film (kedepannya Frank Darabont menyutradarai satu lagi film bermutu bertema penjara, The Green Mile), tentu saja nama besar yang dipandang adalah Stephen King dan Morgan Freeman. Beruntung, semua nada keraguan sirna begitu tanggal perilisan, banyak kalangan (kritikus, wartawan, penonton awam) tidak berhenti dalam memberi film ini kredit plus dan pujian-pujian yang pada akhirnya membuatnya mendapatkan 7 nominasi Oscar yang sayangnya tidak ada satupun yang dimenangkan.

Bersetting pada tahun 1947, Andy Dufresne adalah seorang bankir yang dituduh melakukan pembunuhan kepada istrinya serta selingkuhan istrinya dengan motif dan bukti yang kuat. Oleh karena itu, ia harus menjalani hukuman di sebuah penjara bernama Shawshank, dimana Andy selalu bersikeras bahwa ia tidak membunuh Istrinya serta selingkuhan istrinya. Andy sendiri memiliki sifat yang tertutup serta sedikit sulit bergaul, ia lebih senang menyendiri, membaca, atau memahat batu. Sampai suatu saat, hidupnya di Shawshank sedikit ‘cerah’ sejak ia bertemu dengan Red, yang sudah menjalani masa 30 tahun penjara di Shawshank. Andy belajar banyak hal dari Red, mereka menjadi sahabat yang sangat dekat dan memberikan kesan hangat untuk kita yang menontonnya.

Harapan, harapan dan harapan. Inti dari film ini adalah harapan dan usaha. Sebuah harapan agar dia bisa dipercaya bahwa ia tidak bersalah dan sebuah (atau mungkin banyak) usaha untuk mewujudkannya. Andy tidak pernah menyerah dengan harapan dan usaha, tidak sekalipun, bahkan pada saat dia benar-benar jatuh, bahkan saat dia benar-benar kesulitan. Itu salah satu yang saya anggap ‘luar biasa’ dari banyak hal luar biasa yang tidak ada habisnya jika saya jabarkan satu-satu. Penanaman sebuah rasa penasaran dari awal sampai pertengahan film, dijawab dengan Sempurna dan anggun,  bahkan saya sempat terharu sampai ingin rasanya memeluk Andy dan berbisik ke telinganya : “ Teach Me”.  Oke, harus diakui *sambil mengangkat topi* disini walaupun saya salah satu fans berat Morgan Freeman, tetapi mahkota akting terbaik untuk film ini memang harus saya letakkan ke kepala Tim Robbins yang seakan-akan terlahir untuk dicasting menjadi pemeran Andy Dufresne. bisa dibilang tanpa cela, hanya dengan melihatnya sejenak saja, sudah cukup menunjukkan seolah-olah dia adalah seorang yang innocent, punya kemauan kuat, dan Harapan tanpa batas yang selalu dipegang (sekaligus sosok seorang yang cerdas).

The Shawshank Redemption adalah sebuah film yang sangat berpengaruh untuk saya, Membuka mata saya akan arti dari sebuah film berkualitas dan akan sebuah Harapan. Untuk selanjutnya, setelah review ini anda baca, semoga mata anda yang akan terbuka.

The Shawshank Redemption: 9.6/10

Deep Throat, Pornografi, dan Kita

Standard

Oleh : Togar Tandjung

Sebagian besar mereka yang membaca entri ini pasti mengetahui -minimal pernah dengar- siapa itu Maria Ozawa. Atau Sasha Grey. Atau Asia Carrera, Terra Patrick, hingga Vicky Vette yang kicauannya cukup mencuri perhatian pengguna Twitter di Indonesia. Ya, mereka adalah para wanita yang rela mempertontonkan kemolekan tubuhnya kepada jutaan penyaksi film porno (termasuk yang di Indonesia).

Tapi, pernahkah anda mendengar Linda Lovelace? Mungkin ada yang pernah tapi saya yakin tidak terlalu banyak. Linda Lovelace tak beda dengan nama-nama yang saya sebutkan di awal tadi. Dia adalah -seperti nama-nama yang saya sebutkan di awal tadi- seorang pemeran wanita yang mungkin akan lebih ditunggu lenguhannya di ranjang ketimbang kualitas aktingnya.

Pada tahun 1972, ada “revolusi” di Amerika Serikat. Bukan, saya tidak sedang membicarakan skandal Watergate yang tersohor itu. Ada “revolusi pornografi” di masa itu. Gerard Damiano -tentu lagi-lagi pecinta film jarang mendengar nama ini ketimbang Martin Scorsese- membuat film porno berjudul Deep Throat. Linda Lovelace, sang pemeran wanita, mendapat porsi sebagai pemeran utama di sana.

Diceritakan seorang wanita (Lovelace) mengalami kesulitan untuk mengalami orgasme. Setelah sebuah pesta seks tidak juga membantu, sang wanita disarankan temannya untuk mendatangi dokter. Sang dokter menemukan bahwa klitoris wanita tadi berada di tenggorokannya. Sang dokter (lelaki) menyarankan wanita tersebut untuk melakukan oral sex agar memudahkannya mencapai klimaks. Selebihnya, tak ada cerita yang istimewa dari Deep Throat (seperti film porno lainnya yang memang lebih berfokus adegan seks ketimbang alur cerita).

Ber- budget tak lebih dari $ 50,000 (menurut The New York Times terbitan 1973) Deep Throat konon meraup keuntungan hingga $600 juta (menurut dokumenter tentang film ini, Inside Deep Throat, yang dibuat oleh Fenton Bailey dan Randy Barbato pada tahun 2005). Ribuan orang berbondong-bondong untuk menyaksikan film porno ini semenjak pertama kali diputar pada 12 Juni 1972 di World Theater, New York. Dilarang beredar di berbagai wilayah Amerika Serikat, Deep Throat tetap menarik minat  warga Amerika Serikat yang menurut dokumenter tadi kebanyakan datang dari kalangan menengah ke atas.

Lovelace mungkin tak akan pernah sepopular  artis macam Meryl Streep hingga Julia Roberts. Tapi, sebagaimana dikatakan kritikus film pemenang Pulitzer Roger Ebert, Deep Throat adalah sebuah pemberontakan kultural. Di masa itu, telanjang di depan kamera kemudian disaksikan jutaan pasang mata belum sebegitu popular seperti sekarang. Kalaupun itu dilakukan dalam film porno, maka film tersebut kemungkinan besar bukanlah film yang sohor alih-alih distribusinya dilakukan sembunyi-sembunyi di jaringan bawah tanah. Agak kembali ke beberapa saat sebelum Deep Throat diputar, kita mungkin ingat nama macam Marilyn Monroe atau Jane Maynsfield atas keberaniannya mempertontonkan tubuh di depan kamera dan memang hal tersebut digunakan sebagai “akselelator” popularitas mereka. Tentu hal ini berbeda dengan kekinian. Angelina Jolie yang beberapa kali mempertontonkan payudaranya di film, (dan yang paling “menggetarkan” tentunya di Original Sin) tidak terlalu diributkan seperti masa itu. Di era film sekarang ini, Hollywood terutama,  anda tidak cukup mempertontonkan ketelanjangan di depan kamera untuk memperoleh popularitaas. Ketelanjangan di sebuah adegan seks dalam film mainstream bukanlah hal yang terlalu istimewa lagi untuk digembar-gemborkan layaknya era Monroe dan Maynsfield.

Deep Throat sering dinilai sebagai pembuka jalan ke arah sana. Sebagai pintu gerbang di mana liberalisasi ranah seksualitas mulai memasuki ruang keluarga masyarakat Amerika Serikat (dan mungkin Indonesia dan negara-negara lainnya yang cukup terpengaruh kultur Hollywood). Embel-embel di belakang pembuatan film ini seperti keterlibatan jaringan mafia dalam produksinya sebagai medium pencucian uang hingga pengakuan salah satu pemeran wanita dalam film ini, Linda Boreman, yang melakukan adegan seks di bawah ancaman todongan senjata, hanya menambah “kehebatan” film ini sebagai cult di dunia sinema dan kultur pop Amerika Serikat. Bahkan, magis film ini juga dapat ditemukan apabila anda menyaksikan film berjudul All The President’s Men yang diangkat dari kisah nyata pembongkaran skandal Watergate. Dalam film (dan kenyataan), Howard Simons, editor Wahington Post, memilih istilah “Deep Throat” untuk menyebut informannya -Mark Felt- dalam membongkar konspirasi yang melengserkan Presiden Nixon ini.

Tentu esai pendek ini hanyalah sebuah deskripsi dan bukanlah penilaian terhadap kekuatan cerita dari sebuah film porno. Saya tak  yakin seseorang (anda, saya, kita) menyaksikan film porno untuk tujuan lain selain membuat dirinya terangsang. Deep Throat, sebagai jalinan cerita, bukan apa-apa dibandingkan film-film lainnya yang memiliki implikasi kultural sangat besar layaknya Star Wars hingga Harry Potter. Tapi, barangkali, ketika hal remeh seperti lenguhan di atas ranjang masih membuat penasaran banyak orang, Deep Throat hadir di saat yang tepat. Karena film yang “baik” terkadang tidak melulu ditentukan dari besarnya biaya atau kompleksitas cerita. Tapi sejauh mana dia membuat kita penasaran dan membuat kita menjadi orang “yang lain” setelah selesai menontonnya.

Puisi Eksistensi, The Tree of Life

Standard

The Tree of Life

ditulis oleh Aldamayo Panjaitan

 “Where were You? You let a boy die. You let anything happen. Why should I be good ? When You aren’t.” 

Banyak sekali film yang berbicara tentang hakekat Tuhan, kehidupan manusia (dan juga kematian tentunya), baik diadaptasi secara melodramatis, kriminal dan juga komedi. Tapi hanya sedikit film yang membahas perihal kehidupan secara puitis tapi tidak ketinggalan pula komprehensif, seperti film The Tree of Life karya Terrence Malick ini.

Terrence Malick adalah seorang sutradara legendaris yang hanya membuat film jika ia benar-benar siap membuatnya secara mental dan psikologis, hal ini terbukti dari betapa sedikitnya jumlah film yang telah Malick buat selama karirnya, yaitu sebanyak 6 buah saja yang ia sutradarai. Terlebih lagi, apabila Malick memegang kendali dari kursi sutradara, ia tidak pernah main-main, ia memegang penuh seluruh proses syuting, dan jangan dilupakan Malick adalah seorang perfeksionis sejati seperti Kubrick.  Mungkin satu-satunya perbedaan utama antara Malick dan Kubrick adalah bahwa Malick merupakan 100% emosi dan Kubrick adalah manifestasi dari logika, meskipun hal ini tidaklah mutlak.

Emosi, adalah suatu hal yang mendasari suatu puisi. Ya, The Tree of Life dibuat sebagai sebuah visual-poem, bukan sebagai film yang mainstream. Film ini berstruktur non-linear, dan percaya atau tidak, nyaris tanpa plot sama sekali. Plot (jika bisa dibilang plot) satu-satunya di film ini adalah bahwa sebuah keluarga di Amerika Serikat tahun 50-an telah kehilangan seorang putra, dan film ini berfokus pada kesedihan keluarga tersebut, tapi seperti disebutkan sebelumnya, dibuat sangat tidak prosaik, minim dialog, dan juga penuh cut-cut non-linear yang terfragmentasi. Ya, anda sedang membaca pembukaan sebuah puisi yang rapuh. Lalu penonton diarahkan ke masa kini dimana salah satu saudara kandung (Sean Penn) anak yang meninggal tadi nampak bekerja di sebuah lingkungan yang ultra-steril, dan nampak sedang berada di dalam kedukaan yang mendalam, mungkin hari itu adalah hari peringatan beberapa tahun meninggalnya saudaranya, meskipun tidak dijelaskan di film.

Lalu Malick mendadak berputar haluan, dari pemandangan suburban keluarga kelas menengah Amerika Serikat, Malick membawa kita ke awal terjadinya alam semesta. Big Bang! dari gumpalan gas meledaklah sebuah nova dan membentuk gumpalan-gumpalan gas lain, alam semesta tercipta. Adegan ini murni tanpa dialog, hanya diselingi pertanyaan-pertanyaan yang dibisikkan oleh sang Ibu, “where were You?”, tanya sang Ibu seakan-akan menuduh Tuhan yang berlaku tidak adil dengan merenggut nyawa anaknya. Walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit, tapi penonton bisa mengetahui dengan ditampilkannya proses penciptaan alam semesta, kita sedang diajak untuk berpikir jauh kebelakang, menuju motif awal terjadinya kehidupan, bahwa kehidupan (dan kematian) saling berkaitan bahkan dari supernova yang pertama. Malick menyajikan evolusi kehidupan dengan sangat puitis, indah, dan realistis (dibantu oleh ahli spesial efek kenamaan, Douglas Trumbull, yang juga menangani visual efek 2001: A Space Odyssey).

Setelah menikmati sajian visual penuh warna dan kontemplasi itu kita diajak kembali ke dunia suburbia 50-an dimana penonton dibawa ke hari dimana sang anak itu lahir, betapa bahagianya keluarga itu, dan bahwa seorang Bapak yang rapuh di awal film (saat mengetahui anaknya tewas) ternyata adalah seorang ayah otoriter yang no-nonsens dan mendominasi istri dan anak-anaknya (diperankan dengan sangat baik oleh Brad Pitt). Film berlanjut dengan berbagai ketegangan diantara anak-anak karena tindakan otoriter si Bapak, dan juga kebahagiaan mereka ketika si Bapak pergi keluar negeri untuk urusan bisnis.

The Tree of Life tidak menyajikan dialog-dialog yang biasa ada di dalam film keluarga, film ini lebih merupakan sebuah potret, potret yang sangat besar, akan kehidupan. Anda tidak akan menemukan satupun sekuens yang “normal” di film ini, penonton dibuat menjadi bagian dari keluarga itu, tetapi juga diberi jarak yang cukup jauh, seakan keluarga itu merupakan suatu objek penelitian (hal ini mengingatkan kita ke adegan terakhir 2001: A Space Odyssey). Akhir kata, film ini adalah sebuah karya seni yang menawan, sama sekali bukan film popcorn yang bisa dinikmati jika tidak sedang dalam mood serius. Film ini berusaha memotret sebuah keindahan yang rapuh, yang bernama kehidupan.Film ini juga secara tidak langsung bertanya (bukan mempertanyakan) Ketuhanan itu sendiri, seperti kutipan dari film yang ada di awal tulisan ini. Tontonlah, nikmati segala alur dan gelombang visual yang muncul di layar anda, tapi jangan mengharapkan jawaban yang disuap begitu saja ke mulut anda. Malick hanya pengantar pesan (yang sangat handal), ia juga masih bertanya.

The Tree of Life: 8.8/10

Picture in Motion.. is in motion!

Standard

Halo pengunjung blog (selanjutnya kami sebut sebagai pembaca)!

selamat datang di blog kami yang bernama Picture in Motion (sebuah wordplay dari motion picture, wait, was it a wordplay? doesn’t seem like a smart one!), blog ini kami buat sebagai labor of love kami akan film-film bermutu baik mainstream maupun non-mainstream, walaupun lebih banyak non-mainstream (we’re not hipsters, anyway, or are we?). Picture In Motion (PiM) akan berisi berbagai review-review, kontemplasi-kontemplasi dan cincong-cincong bermutu (dan tidak bermutu) tentang berbagai film tersebut. Blog ini diasuh oleh dua orang admin yaitu Aldamayo Panjaitan dan Togar Tandjung, tapi suatu hari nanti kami tentu akan menerima tulisan-tulisan yang menarik dari pembaca kami.

Akhir kata, kami mengucapkan selamat datang dan selamat menikmati sajian-sajian kami. Jika kurang berkenan tolong beritahu kami, jika berkenan tolong beritahu teman dan handai taulan.

"Where are the posts??" | "be patient, gentlemen, we'll be writing soon"